Senin, 18 Januari 2010

Mari Kita Berbahasa Inggris!

Kompetensi Berbahasa Inggris adalah kewajiban mutlak untuk mendapatkan pekerjaan atau posisi penting di era global ini. Pada kesempatan sebelumnya, rekan Nico telah banyak membahas mengenai teknis pengajaran bahasa Inggris. Namun, dalam berbahasa juga diperlukan untuk ‘menjiwai’ dan ‘manunggal’ dengan bahasa tersebut. Bagaimana cara menjiwai bahasa inggris? Mari kita simak!

Pemahaman kultural adalah syarat berbahasa

Barangkali satu hal yang sebaiknya ditekankan, bahwa untuk dapat menjiwai suatu bahasa, diperlukan pemahaman kultur dari penutur bahasa tersebut. Dalam konteks bahasa Inggris, adalah ide sangat bagus supaya memahami juga kultur dan sejarah Inggris atau bangsa penutur bahasa Inggris (seperti Amerika Serikat). Jadilah anggota perpustakaan yang menyediakan literatur atau film mengenai sejarah dan kultur mereka. Tidak diperlukan pemahaman mendalam mengenai hal ini, namun cukup mengenai hal-hal yang populer saja. Contoh sederhana, Bangsa Inggris terkenal dengan ‘black humor’ mereka. Supaya lebih fasih berbahasa Inggris dan menjiwainya, ada baiknya menonton film mengenai hal itu. Lalu juga sejarah, mengapa akhirnya Amerika Serikat, yang awalnya salah satu koloni Inggris, akhirnya merdeka. Dari perspektif perbedaan sejarah kedua bangsa, kita bisa melihat, bahwa ‘British English’ dan ‘American English’ adalah dua dialek yang sangat berbeda. Dengan menjiwai sejarah dan kultur suatu bangsa, maka itu adalah pintu gerbang menuju penguasaan bahasa mereka.

Menjaga kemurnian bahasa ibu

Percayalah, mencampur aduk bahasa Inggris dengan bahasa ibu kita, bukanlah solusi yang baik untuk meningkatkan kompetensi berbahasa. Dalam hal ini, kita harus berkaca dengan Belanda dan Swedia. Kedua bangsa tersebut, merupakan penutur bahasa Inggris yang hebat. Selain mampu berbahasa Inggris, kita dapat juga dapat menemui orang Belanda atau Swedia yang dapat berbahasa Jerman atau Perancis. Namun, kedua bangsa tersebut terkenal sangat ketat menjaga kemurnian bahasa ibu mereka. Jika berbicara, mereka cenderung menghindari pencampuran dengan bahasa lain. Bahkan, jika bertemu dengan orang asing, mereka cenderung lebih suka berbicara dengan bahasa Inggris, dalam rangka menghidari pencampuran tersebut. Tetap, berbahasa yang paling ‘keren’ bukanlah mencampurkan bahasa inggris dengan bahasa indonesia, namun menjaga kemurnian bahasa indonesia, sambil sempurna berbahasa Inggris. Jika ingin menggunakan kata-kata dari bahasa Inggris, sebisa mungkin gunakan kaidah serapan EYD. Kamus Besar Bahasa Indonesia di http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php memuat banyak kata serapan dalam bahasa Inggris, namun kata-kata tersebut telah disesuaikan dengan kaidah EYD. Salah satu contoh adalah kata ‘assumption’, yang menjadi asumsi.

Sering berinteraksi dengan bangsa asing

Dapat juga kita melatih bahasa Inggris dengan bangsa sendiri. Namun masalahnya, jika kita mulai tidak paham dalam mengucapkan kalimat tertentu, kita akan mudah menggunakan bahasa indonesia lagi. Dalam rangka itu, untuk ‘memaksa’ kita berbahasa inggris dengan baik, berinteraksi dengan orang asing yang tidak paham bahasa Indonesia atau memahaminya secara terbatas adalah keharusan. Dengan demikian, kita akan dipaksa untuk berbahasa inggris dengan lebih baik lagi. Banyak cara untuk berinteraksi dengan mereka. Cara-caranya adalah dengan mengambil beasiswa ke LN, bekerja di perusahaan multinasional, bekerja di kedutaan asing atau menjadi ekspatriat yang bekerja di luar negeri. Perusahaan multinasional di Indonesia sudah banyak, dan mereka memperkerjakan ekpatriat dari LN. Inilah kesempatan baik untuk berbahasa Inggris dengan mereka. Penutur bahasa Inggris biasanya akan maklum dengan kemampuan bahasa kita. Jika mereka mendeteksi, bahwa kemampuan berbahasa kita belum sempurna, mereka akan berbicara dengan pelan.

Langsunglah berbicara, tidak usah terlalu banyak berpikir

Mayoritas guru bahasa Inggris bisa jadi akan protes dengan poin ini. Namun dari pengalaman pribadi, terlalu banyak berpikir mengenai tata bahasa, justru akan membuat kita tidak berbicara sama sekali. Dalam percakapan dengan orang asing, sering kali lawan bicara kita berbicara sangat cepat, terutama kalau berbicara dengan orang Inggris atau Amerika. Jika sudah begini, kita tidak mungkin punya waktu untuk memikirkan, apakah kalimat ini menggunakan ‘present tense’, ‘future tense’ ataupun ‘past tense’. Alhasil, yang bisa dilakukan adalah, beranilah berbicara. Jika kita teliti, bahkan pada orang Inggris dan Amerika yang paling terpelajar sekalipun, bisa jadi kita temukan kesalahan pada tata bahasa mereka. Memang, untuk bisa berbicara dengan sangat cepat, kita harus menguasai tata bahasa dahulu. Namun di tingkat percakapan yang sangat cepat, memformulasikan tata bahasa seperti di TOEFL atau IELTS sudah tidak berguna sama sekali. Semua konsep tata bahasa sudah harus dikuasai di alam bawah sadar kita. Supaya bisa cepat mencapai tingkat ini, poin sebelumnya mengenai interaksi dengan bangsa asing akan membantu. Sembari memperbaiki tata bahasa kita dengan persiapan TOEFL atau IELTS, secara paralel akan sangat baik juga kalau kita sering berinteraksi dengan orang asing. Penguasaan tata bahasa, akan sangat berguna kalau kita menulis jurnal, buku, presentasi ilmiah, atau laporan ilmiah. Kalau dalam percakapan cepat, hal itu sudah harus dikuasai secara spontan.

Demikian kiranya, sedikit tips-tips untuk menjiwai Bahasa Inggris. Jika rekan-rekan sekalian memiliki tips-tips lain, silahkan berikan komentar terhadap artikel ini. Saya terbuka akan segala masukan yang membangun.

Ethos Kerja Orang Indonesia, Untuk Siapa?

Ketertinggalan Indonesia saat ini membuat kita bertanya, apakah orang Indonesia tidak punya semangat kerja seperti bangsa lain? Jika punya, mengapa negara kita “bernasib” seperti sekarang ini? Studi-studi sosiologi dan manajemen dalam beberapa dekade belakangan bermuara pada satu kesimpulan yang mengaitkan antara etos kerja manusia dengan keberhasilannya.

Dikatakan bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh sikap, perilaku dan nilai-nilai yang diadopsi individu-individu manusia di dalam komunitas atau konteks sosialnya.

Melalui pengamatan terhadap karakteristik masyarakat di bangsa-bangsa yang mereka pandang unggul, para peneliti menyusun daftar tentang ciri-ciri etos kerja yang penting. Misalnya etos kerja Bushido dinilai sebagai faktor penting dibalik kesuksesan ekonomi Jepang di kancah dunia. Etos kerja Bushido ini mencuatkan tujuh prinsip, yakni:

  • Gi – keputusan yang benar diambil dengan sikap yang benar berdasarkan kebenaran; jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, sebab kematian yang demikian adalah kematian yang terhormat
  • Yu – berani dan bersikap kesatria
  • Jin – murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama
  • Re – bersikap santun, bertindak benar
  • Makoto – bersikap tulus yang setulus-tulusnya, bersikap sungguh dengan sesungguh-sungguhnya dan tanpa pamrih
  • Melyo – menjaga kehormatan, martabat dan kemuliaan, serta
  • Chugo – mengabdi dan loyal.

Begitu pula keunggulan bangsa Jerman, menurut para sosiolog, terkait erat dengan etos kerja Protestan, yang mengedepankan enam prinsip :

  • bertindak rasional,
  • berdisiplin tinggi,
  • bekerja keras,
  • berorientasi pada kekayaan material,
  • menabung dan berinvestasi, serta
  • hemat, bersahaja dan tidak mengumbar kesenangan.

Pertanyaannya kemudian adalah seperti apa etos kerja bangsa Indonesia ini. Apakah etos kerja kita menjadi penyebab dari rapuh dan rendahnya kinerja sistem sosial, ekonomik dan kultural, yang lantas berimplikasi pada kualitas kehidupan?
Ethos Kerja Indonesia

Ataukah etos kerja yang kita miliki sekarang ini merupakan bagian dari politik republik tercinta? Dalam buku “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis yang diterbitkan sekitar seperempat abad yang lalu, diungkapkan adanya karakteristik etos kerja tertentu yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Beberapa di antara ciri-ciri itu adalah: munafik; tidak bertanggung jawab; feodal; percaya pada takhyul; dan lemah wataknya. Beliau tidak sendirian. Sejumlah pemikir/budayawan lain menyatakan hal-hal serupa. Misalnya, ada yang menyebut bahwa bangsa Indonesia memiliki ‘budaya loyo,’ ‘budaya instan,’ dan banyak lagi.

Hasil pengamatan para cendekia tersebut tentu ada kebenarannya. Tetapi tentunya bukan maksud mereka untuk membuat final judgement terhadap bangsa kita. Pernyataan-pernyataan mereka perlu kita sikapi sebagai suatu teguran dan peringatan yang serius. Jika ciri-ciri etos kerja sebagaimana diungkapkan dalam “Manusia Indonesia” kita sosialisasikan, tumbuh kembangkan dan pelihara, maka berarti kita bergerak mundur beberapa abad ke belakang.

Tanpa bermaksud terlarut dalam kejayaan masa lalu, sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki prestasi yang patut dihargai dalam perjalanannya. Tegaknya candi Borobudur dan puluhan yang lainnya hanya mungkin terjadi dengan dukungan etos kerja yang bercirikan disiplin, kooperatif, loyal, terampil rasional (sampai batas tertentu), kerja keras, dan lain-lain.

Berkembang luasnya pengaruh kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Samudra Pasai, Mataram, Demak, dengan berbagai perangkat dan infrastruktur teknologis maupun sosial dalam pengelolaan kenegaraannya, juga mempersyaratkan adanya suatu etos kerja tertentu yang patut dihargai. Selain ini, pesantren-pesantren yang sampai kini masih bertahan dan berkembang, memiliki akar pertumbuhan pada beberapa abad yang lalu, yang menunjukkan bahwa tradisi belajar-mengajar telah menjadi bagian kehidupan masyarakat Tanah Air jauh sebelum bangsa Belanda mengunjungi kita.

Kita juga mengenal slogan-slogan yang, setidaknya dulu, pernah menjadi cerminan suatu etos kehidupan, seperti: Bhinneka Tunggal Ika; Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangung Karso, Tut Wuri Handayani; Menang Tan Ngasorake; Niteni, Niroake, Nambahake.

Ini mencerminkan etos kerja dalam konteks kehidupan sosial yang penting dalam membangun persatuan, leadership, dan bahkan untuk berinovasi. Masih banyak lagi slogan-slogan yang berlaku dan terkenal di berbagai daerah-daerah di Tanah Air.Sejarah bangsa Indonesia dapat menjadi salah sebuah sumber penting bagi kita untuk menggali, memahami dan membangun etos kerja bangsa kita. Hanya saja, perhatian pada sejarah tak jarang dimotivasi oleh dorongan-dorongan apologetik, atau menjadi ‘pelarian’ dari tantangan-tantangan yang kita hadapi hari ini. Jika potensi sejarah ini tidak dimanfaatkan secara optimal, ini bisa berimplikasi keterasingan bangsa akan dirinya sendiri. Lebih jauh, ini bisa membuat kita asing terhadap etos kerja bangsa kita sendiri.

Nalar

Sebagaimana disimpulkan oleh para peneliti sosiologi dan manajemen, etos kerja merupakan bagian penting dari keberhasilan manusia, baik dalam komunitas kerja yang terbatas, maupun dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Keberhasilan ini bukan hanya dikarenakan adanya pengetahuan dan kemampuan menggunakan nalar, tetapi juga kemampuan mengarahkan pengetahuan dan aktivitas penalaran menuju pada kebaikan, baik kebaikan individu maupun kelompok. Ini yang menjadi ciri penting dalam etos Bushido. Tetapi, kutipan berikut ini mengingatkan kita tentang aspek penting lain dari etos kerja.“. . . [A] human being regarded as a person, that is, as the subject of a morally practical reason, is exalted above any price; for as a person (homo noumenon) he is not to be valued merely as a means to the ends of others or even to his own ends, but as as an end in himself; that is, he possesses a dignity (an absolute inner worth) by which he exacts respect for himself from all other rational beings in the world.” 1a* Immanuel Kant. The Metaphysics of Morals. Ketika kita membicarakan etos kerja, atau prinsip-prinsip etika ataupun norma, perlu kita sadari sasaran mendasar yang menjadi tujuan pengembangan etos tersebut.

Dalam kutipan di atas, Kant, seorang Bapak filosofi modern, menekankan pentingnya menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai sebuah sasaran pengembangan etos kerja. Artinya, pembicaraan etos kerja dan manajemen perubahan haruslah memberi penekanan pada arti penting dari manusia itu sendiri sebagai tujuan perubahan, bukan manusia sebatas sebagai SDM atau sebagai sarana produksi.Kedua, meskipun nalar memiliki keterbatasan, uraian Calne dalam bukunya Within Reason sama sekali tidak menyarankan bahwa kita tidak perlu menggunakan nalar untuk bisa bekerja lebih baik ataupun hidup lebih baik.

Yang penting adalah kita menyadari kembali sebuah fungsi penting dari nalar, yaitu mengarahkan dan menghasilkan kehendak yang betul-betul baik. Kehendak baik ini bukan menjadi tujuan perantara, tetapi menjadi tujuan akhir itu sendiri dari penggunaan nalar, sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan Kant Berikut ini: “. . . [Reason's] true function must be to produce a will which is good, not as a means to some further end, but in itself . . . ” Immanuel Kant (1724-1804). Groundwork of the Metaphysic of Morals Sebagai penutup, mari kita akhiri pembahasan tentang pengembangan etos kerja dalam artikel ini dengan merenungkan pesan yang terkandung dalam sebuah kutipan dari sosiolog humanis Eric Fromm berikut ini: Immature love says: ”I love you because I need you.” Mature love says: ”I need you because I love you.”

Keunggulan Menjadi Bangsa Multilingual: Studi Kasus Belanda

Beberapa bangsa di Eropa, seperti Belanda, Denmark, dan Swedia, menerapkan pendidikan multi lingual semenjak sekolah menengah. Bahasa asing yang mereka pelajari, adalah Bahasa Inggris, yang merupakan bahasa internasional, dan Bahasa Jerman.

Indonesia sudah memulai pendidikan multi lingual, dengan membuka sekolah internasional, dimana bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Dalam beberapa kasus, selain bahasa Inggris, bahasa mandarin juga menjadi bahasa pengantar. Namun, apakah kemampuan berbahasa asing mampu meningkatkan daya saing kita? Apakah bangsa yang mampu menguasai berbagai macam bahasa asing memiliki keunggulan tertentu? Yang terpenting, apakah dengan menguasai berbagai bahasa asing, kemurnian bahasa ibu bisa tetap dijaga?

Kemurnian Bahasa

Mari kita mengambil contoh, pada mantan penjajah kita, yaitu negeri Belanda. Jika kita melihat peta eropa, Belanda tidak lebih hanya liliput ditengah dua negara besar, yaitu Perancis dan Jerman. Belanda memang tidak berbatasan langsung dengan Perancis, namun di Belgia, terdapat komunitas berbahasa Perancis, selain yang berbahasa Belanda. Secara ras dan kultural, posisi Belanda bagaikan kancil yang terjepit di tengah dua gajah raksasa.

Berbeda dengan Perancis dan Jerman, yang merupakan pusat prestise, aristokrasi dan kekuasaan Politik dan ekonomi Eropa dengan segala kemegahannya, Belanda hanya bisa bergantung pada satu hal untuk hidup, yaitu perdagangan. Keadaan dimana perdagangan menjadi salah satu pilihan strategis untuk bertahan, menjadikan para saudagar Belanda harus memutar otak dalam rangka beradaptasi ditengah ‘himpitan’ Perancis dan Jerman. Dalam kapasitas mereka sebagai pedagang, jika ingin melakukan perjalanan dinas ke Paris atau Berlin, maka menguasai bahasa Perancis atau Jerman menjadi suatu kewajiban. Sebagai bangsa yang besar, adalah tidak mungkin mengharapkan orang Perancis atau orang Jerman untuk berbahasa Belanda. Alhasil, para saudagar Belanda terpacu untuk mempelajari bahasa Jerman dan Perancis, selain bahasa Inggris, untuk melancarkan urusan bisnis mereka di Paris atau Berlin.

Seperti yang pernah dijelaskan M.Purna dalam artikel ‘Salah Kaprah dalam Pelafalan Bahasa Indonesia’, fenomena pencampuran bahasa menjadi salah satu masalah besar di Indonesia dewasa ini, terutama dengan bahasa Inggris. Hal ini terjadi, karena bahasa Indonesia masih mencari format dalam rangka menghadapi gempuran bahasa asing. Namun, fenomena demikian tidak terjadi pada Bahasa Belanda. Bagi yang menguasainya, akan sangat jelas sekali, bahwa Bahasa Belanda sangat mirip dengan Bahasa Jerman.

Berikut akan saya berikan tabel perbandingan antara Bahasa Belanda, Jerman, dan Indonesia:

Belanda Jerman Indonesia
wonen wohnen tinggal
wolk wolke awan
vrucht frucht buah
vriend freund teman
gezicht gesicht sejarah

Memang tabel diatas tidak mungkin mewakili keseluruhan kosa kata bahasa jerman dan Belanda, namun hanya berfungsi sebagai contoh saja. Namun, walaupun kedua bahasa tersebut memiliki persamaan kosa kata yang sangat mencolok, pelafalannya sangat berbeda.

Bahasa Jerman memiliki sistim pelafalan yang mirip bahasa Indonesia, dimana penulisan dan pelafalan sama, namun Bahasa Belanda lebih mirip bahasa Inggris, dimana penulisan dan pelafalan berbeda. Walaupun kedua bahasa itu sangat mirip, seperti bahasa Indonesia dan bahasa melayu malaysia, namun fenomena pencampuran bahasa tidak terjadi.

Secara kultural, seharusnya pencampuran itu mudah saja terjadi, mengingat Bahasa Jerman merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di Eropa, setelah bahasa Inggris, dan secara populasi bahkan penutur Bahasa Jerman sebagai bahasa ibu lebih banyak daripada penutur Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu di Eropa.

Belum lagi mengingat posisi Jerman sebagai ekonomi nomor 3 di dunia. Dengan keunggulan politis seperti ini, seharusnya ‘perembesan’ bahasa Jerman ke dalam bahasa Belanda bisa terjadi dengan mudah. Namun hal itu tidak terjadi. Belanda terkenal sebagai bangsa yang sangat melindungi kemurnian bahasanya.

Berhubung pelafalan bahasa Belanda dan Jerman yang sangat berbeda, maka fenomena pencampuran bahasa akan sangat mudah dikenali, dan bisa dihindari. Jika ada kata dalam bahasa Jerman yang diserap, maka itupun akan diucapkan dengan pelafalan bahasa Belanda. Di satu sisi, Belanda mewajibkan siswa sekolah untuk mempelajari bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman, namun di sisi lain, kemurnian bahasanya tetap dijaga dengan ketat.

Quo vadis Indonesia?
Bung Karno, dalam autobiografinya pernah mengungkapkan, agar Bangsa Indonesia menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Penulis pernah menerima keluhan, bahwa salah satu kesulitan utama penguasaan bahasa Inggris adalah karena bahasa ibu mayoritas orang Indonesia adalah bahasa daerah. Jadi bahasa Indonesia dianggap sebagai semacam ‘bahasa asing’ pertama, dan bahasa Inggris menjadi bahasa asing kedua.

Oleh sebab itu menguasai bahasa Inggris menjadi sangat sulit. Memang bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, namun secara psiko linguistik, bahasa kedua yang dipelajari setelah bahasa ibu jelas berposisi sebagai bahasa asing. Namun, apakah hal ini bisa menghalangi bangsa Indonesia untuk menguasai berbagai bahasa? Rasanya tidak. Kasus Belanda sudah menunjukkan, bahwa menguasai berbagai macam bahasa adalah mungkin. Dalam beberapa kasus, orang Belanda yang sangat terdidik bukan hanya menguasai bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman, namun juga bahasa Spanyol, Portugis, Italia, atau bahasa asing lainnya.

Hal ini juga menjadi kasus para bapak bangsa kita. Bung Karno dikenal sebagai seorang multi lingual. Beliau menguasai Bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, dan sedikit Italia. Demikian juga bapak bangsa kita yang lain seperti Bung Hatta dan Bung Syahrir, mereka juga adalah intelektual yang multi lingual.

Adapun selain Bahasa Inggris, peran Bahasa Mandarin dari hari ke hari semakin meningkat. Di Indonesia, semakin banyak siswa yang mempelajari Bahasa Mandarin. Posisi China sebagai salah satu lokomotif ekonomi dunia juga mempengaruhi popularitas bahasa Mandarin.

Dengan peran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, popularitas bahasa Mandarin yang semakin menanjak, dan kebutuhan kita menjaga kemurnian bahasa Indonesia yang ‘baik dan benar’, maka diperlukan suatu strategi berbahasa yang komprehensif bagi bangsa Indonesia. Bapak Bangsa kita sudah menunjukkan, bahwa menjadi intelektual yang multi lingual adalah mungkin.

Dapatkah kita kedepannya, mencetak intelektual paripurna, yang mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar, namun menguasai dua bahasa asing? Mari kita diskusikan bersama.

Hemat Energi? Jadilah Vegetarian!

Krisis energi dan pangan merebak ke seantero muka bumi. Ingin hemat energi? Salah satunya dalah dengan menjadi vegetarian atau setidaknya kurangi sumber makanan hewani. Apa pasal? Sebab ternyata bahan makanan hewani membutuhkan lebih banyak konsumsi energi dalam produksi dan suplainya dibanding makanan nabati.

Saat ini 19$ konsumsi energi di Amerika Serikat (AS) digunakan untuk memproduksi dan menyuplai makanan, begitu ungkap David Pimentel dan koleganya di Cornell University dalam jurnal Human Ecology. Produk pangan hewani dan junk food memerlukan lebih banyak energi dalam produksinya dibanding dengan sayuran, buah dan beras. Untuk membuat satu tangkup hamburger saja membutuhkan setidaknya 1.300 galon air, demikian menurut U.S. Geological Survey. Studi yang dilakukan ilmuwan asal University of Chicago, Gidon Eshel dan Pamela Martin mengatakan bahwa menjadi vegetarian sangat efektif dalam menghemat energi.

“Dengan mengurangi junk food dan memakan sedikit daging, orang Amerika bisa memberi kontribusi besar pada konsumsi bahan bakar dan memperbaiki kesehatannya sendiri,” jelas Pimentel.

Porsi Kecil

Sementara itu bagi mereka yang bermasalah dengan kebiasaan makan, tenang saja. Kelak manusia akan makan dalam porsi lebih sedikit. Mengapa? Biaya bahan pangan dan sumber energi yang terus membengkak akibat pemanasan global akan membuat manusia makan lebih sedikit.

Setidaknya itulah prediksi ilmuwan University of Illinois terhadap mendongkraknya harga makanan di masa mendatang. Selain menghemat, mengurangi porsi makan dilakukan demi kesehatan juga. Biaya perawatan kesehatan yang juga membengkak, membuat orang terpaksa menganut gaya hidup sehat dengan diet.

Ingin berkontribusi dalam menghemat energi? Mungkin bisa mulai mencoba diet. Asal tidak sampai kekurangan gizi saja.

Ketika Saintis Berevolusi Menjadi Nazi

Pertama-tama sebelum membaca lebih lanjut artikel ini, beberapa hal perlu diklarifikasi:
  • Penulis tidak mempromosikan suatu agama atau kepercayaan tertentu, tetapi lebih melakukan refleksi pada masyarakat di sekitar penulis yang sarat akan ke-Kristen-an; ke-Kristen-an menjadi tokoh antagonis utama dalam topik ini.
  • Latar belakang permasalahanyang dipaparkan berada dalam ruang lingkup Eropa dan Amerika Serikat, mungkin ada beberapa posisi atau perspektif yang tidak sesuai dengan kondisi Asia, khususnya Indonesia.

Saat dunia sedang panas-panasnya dengan kaum ekstrimis agama dan politik, dunia sains memiliki ‘perang’ tersendiri yang cukup panas dalam 10 tahun kebelakang. Natal 2007 menjadi sebuah momen yang unik di Eropa, khususnya di Dundee, Skotlandia. Annual Christmas Lecture 2007 dari University of Dundee dan Dundee City Council bertajuk, “Why Evolutionism is Right and Creationism is Wrong” (Mengapa Evolusionisme Benar dan Penciptaan Salah) dari Steve Jones, pakar genetika terkemuka Inggris.

Beberapa kalangan masyarakat dan gereja berkeberatan dengan topik tersebut mengingat momen Natal dengan topik yang anti-agama. Tak pelak lagi, Steve Jones berargumen bahwa evolusi yang dipaparkan Darwin sudah menjelaskan eksistensi manusia di muka bumi jadi manusia tidak perlu lagi mencari-cari ‘kambing hitam’ atas pertanyaan eksistensi manusia. Steve Jones bersikukuh bahwa ‘tuhan’ tidak diperlukan dalam hidup manusia. Umat manusia sudah sepatutnya atheists di tengah perkembangan teknologi dan sains yang sangat maju.

Richard Dawkins, profesor Public Understanding of Science Oxford University, telah galak mengkampanyekan ide-ide atheisme berdasarkan evolusi sejak 1976 melalui bukunya yang berjudul “The Selfish Gene” (Gen Egois) hingga terakhir dalam “God Delusion” (Buaian Tuhan) di tahun 2006. Ia memiliki logika:

  • Manusia percaya pada Tuhan karena tidak dapat menjelaskan keberadaan mereka di bumi yangakhirnya dijelaskan oleh penciptaan bumi dalam 6 hari pada Kitab Kejadian (Alkitab)
  • Evolusi Darwin sudah menjelaskan proses penciptaan dan keberadaaan Manusia

Kesimpulannya: manusia tidak perlu lagi percaya akan Tuhan.

Dawkins menambahkan bahwa sains sudah mampu menjelaskan banyak pertanyaan yang 2000 tahun lalu tidak terjawab seperti anak pengidap epilepsi dan bukanlah kerasukan setan. Percaya pada Tuhan tidaklah berbeda dengan percaya dengan Santa Claus atau dongeng-dongeng mimpi lainnya. Sains dipercaya mampu memberikan jawaban atas semua pertanyaan manusia, mungkin tidak sekarang tapi pasti suatu saat nanti. Argumen ini didukung juga oleh Christopher Hitchens dan tokoh-tokoh American Humanists Association.

Teoritis

Di lain pihak, beberapa tokoh seperti Ken Ham, Dr. Dino, dan banyak kaum penginjil di Amerika Serikat bersikukuh pada proses penciptaan 6 hari seperti tafsiran literal Alkitab atau Harun Yahya dari kaum Muslim. Mereka berargumen bahwa evolusi masih bersifat ‘teoritis’ karena hingga saat ini, evolusi masih belum menjawab proses terbentuknya sel dari sup organik secara meyakinkan.

Debat ini tidak behenti sampai di situ, terdapat pula orang-orang seperti CS Lewis, Alister McGrath, dan

Francis Collins yang memiliki argumen bahwa evolusi merupakan suatu bukti ke-mahakuasa-an Tuhan. Alister McGrath, Professor Scientific Theology Universitas Oxford, beragumen bahwa sains tetaplah sebuah ‘alat’ yang terbatas. Menurutnya, justru lewat sains ia mampu melihat kebesaran Tuhan. Francis Collins, project leader Human Genome Project, malah meyakini bahwa evolusi adalah cara Yang Kuasa menciptakan manusia atau lebih popular dengan sebutan Theistic Evolution.

Perbedaan pandangan yang kian meruncing diantara atheistic-scientists and believer-scientists merambat tidak hanya pada debat terbuka tetapi sudah memasuki diskriminasi di Eropa dan Amerika Serikat. Kaum atheistic-scientists diam-diam menghambat para calon mahasiswa sains yang dikategorikan ‘believer’. Bagi mereka, ‘believer’ hanyalah orang-orang yang tidak memiliki intelektual sains. Ironisnya, sains mulai berkembang dengan menunggangi pergerakan Protestanisme sesaat setelah Jaman Kegelapan (Dark Age) di Eropa.

Diskriminasi

Michael Moore boleh memiliki film dokumenter “9/11 Fahrenheit” atau “Sicko”, kini giliran Ben Stein menguak ‘konspirasi kaum biologi intelektual’ dalam “Expelled: No Intelligence Allowed”. Diskriminasi ini malah oleh beberapa pakar sosiologi akan mempengaruhi proses pemberian dana riset dan pada jangka panjang berujung di Asia dimana populasinya jatuh dalam kategori ‘believer’.

Nah bagaimana dengan Anda? Seberapa jauh Anda, sebagai saintis akan melangkah? Kaum atheistic-scientists mungkin membenci para fundamentalis agama, walaupun kini mereka seolah-olah berusaha menjadi NAZI atau Al-Qaeda secara tidak langsung. Menjadi fundamentalis – yakin bahwa merekalah yang paling benar. Isu yang mungkin belum ‘hot’ di Indonesia ini bisa menjadi satu refleksi tersendiri bagi masyarkat kita yang majemuk. Akhir kata, saya sedikit mengutip Albert Einstein, “Science without religion is blind, religion without science is lame.” (Sains tanpa agama adalah buta, agama tanpa sains adalah membosankan).

Strategi Mewujudkan Sekolah Murah di Indonesia

Inflasi dan peningkatan harga kebutuhan pokok berimplikasi pada banyak sektor, dan diantaranya: sektor pendidikan. Berapa banyak orang tua siswa yang mengeluh mahalnya biaya pendidikan terutama di awal tahun ajaran baru? Berapa banyak anak yang terpaksa “menunda” masuk sekolah karena tidak ada biaya? Mengapa di tahun ke-63 Indonesia merdeka pendidikan masih menjadi barang mewah bagi banyak orang?

Adalah tanggung jawab generasi kita sekarang untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia. Untuk itu perhatian ke dunia pendidikan dalam rangka mencetak anak-anak bangsa yang berkualitas dan mampu membawa negeri ini terhadap kondisi yang lebih baik harus lebih diprioritaskan. Miris mendapati kenyataan bahwa di kota-kota besarpun kita masih menjumpai banyak anak yang kesulitan bersekolah.

Tulisan ini bertujuan sebagai saran dan masukan agar anak-anak Indonesia tidak perlu menangis demi mendapatkan sesuatu yang sudah selayaknya menjadi hak mereka yaitu: sekolah.

- Subsidi Pendidikan Lebih Besar

Terwujudnya sekolah murah adalah dengan memperkecil beban biaya orang tua siswa. Dalam hal ini dukungan pemerintah sangat penting. Sekolah pada era 80-90an banyak menggunakan buku diktat yang disediakan secara gratis oleh sekolah. Waktu itu buku-buku tersebut diterbitkan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan. Kemudian buku-buku tersebut semakin jarang, siswa harus membeli buku. Hal lain adalah infrastruktur fisik sekolah, seperti ruangan dan sarana prasarana penyelenggaraan sekolah tiap tahun juga banyak dibebankan kepada orang tua siswa.

- Tumbuh Suburkan Beasiswa

Beasiswa banyak menjadi banyak harapan dari siswa-siswa yang ingin terus bersekolah namun terganjal urusan biaya. Beasiswa dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi perlu ditumbuhsuburkan. Lembaga-lembaga sosial seperti lembaga orang tua asuh dan beasiswa dari perusahaan memberikan peran yang signifikan terhadap pemberian beasiswa.

- Sekolah Alternatif Lebih Didorong dan Dihargai

Bagi anak-anak yang berada di kawasan jauh dari pemukiman padat ataupun anak-anak dari golongan marjinal akan sangat membutuhkan sekolah alternatif. Bagi mereka ini seperti oase di padang pasir. Segala upaya dari lembaga pemerintahan ataupun non pemerintahan untuk hal ini harus lebih didukung dan dihargai karena kita masih memerlukan banyak sekolah alternatif untuk mewujudkan pendidikan yang meluas dan merata.

- Kurikulum yang Ringkas dan Tepat Sasaran

Tidak perlu menyusun kurikulum yang terlalu berat dan gemuk untuk mencetak siswa-siswa yang unggul. Adanya penjurusan SMA di tahun kedua mulai beberapa tahun yang lalu adalah perkembangan yang positif. Pemberian kurikulum yang ringkas dan tepat sasaran akan membantu siswa dan orang tua siswa. Kesadaran siswa terhadap apa yang didapatkannya dari pendidikan, kesadaran terhadap minat pada mata pelajaran tertentu perlu didukung lebih dini agar siswa tau apa yang akan dicapai lewat sekolah.

- Sistematika Bebas Tes dan Bebas Biaya Masuk Sekolah

Sistematikan bebas tes dan bebas biaya masuk sekolah sebaiknya dipertahankan. Porsi ini sepertinya mulai menyusut ketika perguruan tinggi memiliki sistematika sendiri dalam penerimaan mahasiswa. Akibatnya biaya pendidikan semakin mahal sehingga hanya kalangan berduit yang mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi incaran mereka. Padahal sistem bebas tes dan bebas biaya masuk sekolah masih menjadi harapan dan incaran bagi banyak siswa maupun orang tua siswa.

- Promosikan Profesi sebagai Guru

Profesi sebagai guru semakin tidak populer. Padahal guru besar pengaruhnya terhadap pendidikan generasi penerus. Paradigma ini perlu digeser sedikit demi sedikit. Guru adalah profesi yang mulia namun hanya sedikit mereka yang menjadikan guru sebagai pilihan profesi. Promosi terhadap posisi guru sebagai pendidik dan perhatian terhadap kesejahteraan mereka akan lebih membuka mata banyak orang untuk bersedia berprofesi sebagai guru.

- Minimalisir Ketimpangan Mutu dan Sarana Pendidikan

Besar sekali ketimpangan mutu dan sarana pendidikan. Ada sekolah dasar yang mewajibkan siswanya membuka internet sebagai pekerjaan rumah, ada banyak anak kecil yang membawa flash disk ke sekolah, namun masih lebih banyak sekolah yang sarana pendidikannya masih memprihatinkan. Jumlah guru yang terlalu sedikit, jumlah buku yang kurang, jumlah ruang kelas yang tidak mencukupi masih banyak kita jumpai.

- Sosialisasi Sektor Pendidikan sebagai Tanggung Jawab Bersama

Sektor pendidikan merupakan tanggung jawab bersama warga Indonesia. Perlu adanya sosialisasi dan pemahaman terhadap hal ini sehingga akan mempermudah sinergi antara pihak pemerintah, penyelenggara sekolah, orang tua siswa, dan siswa itu sendiri.

Majunya pendidikan di Indonesia agar anak-anak generasi penerus menjadi generasi yang berkualitas dan mampu menghadapi tuntutan perkembangan zaman dengan mantap. Dan semoga semakin berkurang keberadaan Lintang-Lintang kecil seperti di film Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata. Semoga.

Pelajar Mesti Melawan Globalisasi

Bupati Bantul Idham Samawi menyatakan pelajar mesti mempunyai sikap perlawanan terhadap globalisasi yang hanya menjadikan penduduk bangsa ini berperilaku konsumtif. Pelajar tak perlu terseret dalam bingkai kurang gaul atau kurang modern.

Hal itu disampaikan Idham, saat Sambung Rasa bersama para guru, pelajar, dan alumni SMAN 6 Yogyakarta, Sabtu (24/10). Sambung Rasa tersebut menjadi rangkaian acara Reuni Alumni SMAN 6 yang digagas Siswo Utomo, paguyuban alumni sekolah tersebut.

Lakukan perlawanan jika globalisasi itu hanya membuat kita menjadi konsumen yang digiring untuk terus berbelanja. Caranya sederhana, misalnya tak perlu fanatik datang ke mal dan menghabiskan uang di sana. Biar saya dicap ndeso karena tidak ke mal, ujarnya.

Idham yang juga alumnus SMAN 6 Yogyakarta angkatan 1969 ini lebih lanjut menuturkan bahwa Indonesia tak sadar sudah digiring sedemikian rupa oleh negara lain. Misalnya dalam industri ponsel, semua orang Indonesia nyaris mempunyai Nokia.

Bayangkan bahwa Finlandia, produsen merek itu hanya berpenduduk 10 juta jiwa, sedangkan Indonesia 240 juta lebih penduduk. Negara kecil itu menyetir Indonesia karena maju dalam teknologi. Artinya lagi, yang perlu dilakukan pelajar Indonesia sekarang adalah cara agar bisa cepat mengejar ketertinggalan teknologi, bukan cara agar tampil gaul dan makin konsumtif, papar Idham.

Darori, Ketua Umum Paguyuban Siswo Utomo yang juga Direktur jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, mengutarakan, banyak hal positif yang terancam hilang dari anak muda zaman sekarang, akibat terseret modernisasi.

Misalnya dari sisi olahraga dan berorganisasi yang agaknya sekarang tidak terlalu diminati. Padahal itu penting. Prestasi akademik memang penting, namun jangan terlampau mengejar sehingga aspek-aspek lain yang penting tak tergarap, papar Darori.

Soebekti Simaoen, alumnus angkatan tahun 1957 yang mantan pemimpin Bank Bapindo menuturkan, semangat belajar pelajar sekarang dilihatnya tak setinggi zamannya dulu. Entah karena apa, yang jelas banyak faktor. Dulu, kalau pamit belajar sama ortu, ya belajar. Tapi pelajar sekarang, pamit belajar, ternyata tidak selalu belajar, paparnya.

Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMAN 6 Yogyakarta Adhitya Danny Wahyudi menyatakan, pihaknya terus berupaya agar pelajar tertarik berorganisasi. Secara umum, minat pelajar berorganisasi masih bagus, tapi harus terus dipompa. Dengan beban di sisi akademis, mestinya aspek di luar belajar pelajaran bisa menjadi pilihan menarik untuk mengembangkan diri, ujar Danny.