Selasa, 15 Desember 2009

Menyulap komputer bekas pakai Dari "ratu monitor"untuk dunia ketiga

INGAT, komputer bekas bukan berarti tak bisa dipakai. Sedikit ‘sentuhan’ saja, maka terbantulah anak-anak di negara berkembang yang tidak mampu membeli komputer baru.

Seperti itulah yang dilakukan Mary Tiong. Wanita kelahiran Sarawak, Malaysia, ini membangun perusahaan yang membesut komputer bekas menjadi siap pakai dan disalurkan ke berbagai negara berkembang. Unit-unit komputer yang ia kelola mayoritas beredar ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Tiong menyebut dirinya sebagai The Monitor Queen. Wanita berusia 41 tahun itu kini memiliki perusahaan khusus pengelolaan komputer bekas bernama Second Life Computer Remanufacturing di Pittsburgh, Amerika Serikat.

Seperti ditulis AP, Jumat lalu, tujuan perusahaan itu adalah untuk membantu mengurangi sampah-sampah elektronik yang meningkat di Amerika Serikat, sekaligus memenuhi kebutuhan perlengkapan komputer di negara berkembang.

Komputer bekas yang diperoleh Tiong berasal dari sekolah, kantor hukum dan perusahaan farmasi yang mendonorkan komputer bekas mereka untuk Tiong. Selain itu Tiong juga membeli komputer-komputer bekas seharga USD 10 atau sekitar Rp 90 ribu, bahkan kurang.

Setiap paket yang telah siap pakai dikirim ke kawasan pedalaman dan dijual seharga kurang dari USD 100 atau sekitar Rp 900 ribu. Kini hasil usaha Tiong telah menjangkau sekolah-sekolah dan konsumen lain di Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia dan Argentina. Tiong juga berharap, dirinya dapat menjangkau Peru dan Afrika Selatan.

Kontainer Usaha Tiong bermula pada 1998, ketika ia memulai perjalanannya ke Amerika Serikat. Ia membeli kontainer yang dipenuhi monitor dan mengapalkannya ke pabrik perbaikannya di Malaysia untuk diperbaiki. Selanjutnya ia menjual monitor-monitor tersebut ke Singapura, Rusia dan Papua Nugini.

Tahun berikutnya, Tiong memulai membeli komputer tua dan bekas dari kawasan Atlanta, Boston dan San Francisco. Dan pada tahun 2000 dan 2004, ia memperluas perburuannya ke Australia dan Kanada.

Sejak 2005, perusahaan Tiong telah mengirimkan 35 kontainer komputer ke fasilitas pemanufakturan ulang di Kuala Lumpur dan Penang, Malaysia. Satu kontainer mampu menampung sekitar 2.000 komputer atau 800 hingga 1.000 monitor.

Setiba di Malaysia, komputer-komputer bekas tersebut diperiksa dan diperbaiki sebelum akhirnya menjadi siap pakai. Tiong berusaha untuk menghindari proses daur ulang yang melibatkan penghancuran atau perusakan mesin. Yang menjadi misi Tiong adalah memperbaiki perangkat tersebut sehingga bisa digunakan orang-orang yang tak mampu mengakses teknologi.

Dalam situsnya, Second Life mengungkap, kurang dari 1 persen perangkat yang diperbaharui, 2 persen dari perangkat yang dibuat ulang dan 5 persen perangkat daur ulangnya yang masuk ke tempat pemusnahan. Tiong beralasan, hanya sedikit bagian yang akhirnya dibuang, karena sekecil apa pun barang seperti chip, sebenarnya tetap dapat digunakan kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar