Senin, 18 Januari 2010

Haiti Berada di Zone Kegempaan Aktif

Kawasan Karibia merupakan zone kegempaan aktif. Haiti terakhir kalinya dilanda gempa hebat 240 tahun yang lalu.


Gempa bumi hebat berkekuatan 7 pada skala Richter yang mengguncang Haiti sebetulnya fenomena yang tidak mengherankan bagi para pakar geologi. Sepanjang kawasan Karibia diketahui merupakan zone kegempaan aktif. Di kawasan ini lempeng tektonik Karibia terjepit diantara lempeng tektonik Amerika Utara dan Amerika Selatan. Pergerakannya tidak menujam melainkan bergeser diantara lempeng tektonik tsb.

Professor Klaus Dieter Hinzen dari stasiun pengamat gempa bumi di Köln menyebutkan gempa bumi Haiti itu berkaitan dengan posisi lempeng tektonik Karibia yang mengalami pergeseran. "Terdapat lempeng tektonik Karibia yang posisinya terjepit di antara lempeng Amerika Utara dan lempeng Amerika Selatan, seperti sandwich ditengah-tengahnya“, kata Hinzen.

Terakhir kali di Haiti tercatat peristiwa gempa bumi yang terjadi pada tahun 1860, jadi sekitar 150 tahun yang lalu. Juga antara tahun 1750 hingga 1770 tercatat tiga kali gempa hebat yang mengguncang Haiti. Namun tidak ada laporan rinci dari gempa-gempa hebat di masa lalu yang mengguncang Haiti itu. Lempeng tektonik Karibia dimana juga terdapat Haiti bergeser dengan kecepatan hingga dua sentimeter per tahun.

Pakar geofisika dari pusat penelitian kebumian – GFZ di Potsdam, Birger Lühr menjelaskan; "Di bagian barat terdapat dua pergeseren lempeng. Sebuah menuju utara dan sebuah lagi menuju selatan dengan kecepatan dua sentimeter. Pengukuran GPS terbaru menunjukan pergerakan delapan milimeter setahun.“

Kecepatan pegeserannya memang relatif lamban. Namun jika dihitung secara matematis, bahwa gempa kuat terakhir di Haiti terjadi 240 tahun lalu, akumulasi pergerakan maupun energinya menjadi amat besar. Lühr menjelaskan mengapa gempa terbaru di Haiti itu dampaknya amat mengerikan; “Pusat gempanya berada pada kedalaman 10 km, dan dengan kekuatan 7 pada skala Richter kita dapat memperhitungkan, kerak buminya merekah hingga permukaan, karena itu dampaknya amat dahsyat.“

Saat ini di seluruh dunia dipasang lebih dari 300 stasiun pengukuran gempa bumi yang amat peka. Seismograf itu hanya dapat mengukur dan menunjukkan apa yang terjadi di saat gempa bumi. Namun hingga kini tidak dapat diramalkan kapan dan dimana sebuah gempa bumi berikutnya akan melanda serta berapa kekuatannya. Walaupun demikian, para pakar geologi terus melakukan upaya untuk memberikan praduga kemungkinan gempa lebih akurat lagi. Untuk itu dilakukan pengukuran berbagai aktivitas gempa mikro, pergerakan lempeng tektonik di bawah permukaan Bumi serta fluktuasi muka air tanah. Juga dilakukan pemantauan perubahan medan listrik Bumi.

Para pakar geologi Jerman juga mengingatkan masih dapat terjadinya gempa-gempa susulan cukup kuat. “Gempa susulan dapat berkekuatan hingga satu tingkat di bawah gempa utama. Kami memperhitungkan gempa susulan hingga beberapa bulan. Memang intensitasnya turun, tapi sekarang masih terjadi ribuan gempa susulan kecil“, kata pakar geofisika Lühr menambahkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar