Senin, 18 Januari 2010

Mobil Listrik Belum Layak Pasar

Prototype sejumlah mobil listrik diperkenalkan di Detroit Motor Show 2010. Namun semuanya memiliki kesamaan, yakni belum siap dipasarkan secara massal. Solusi transisinya adalah mobil hibrida.


Mobil listrik buatan Mercedes namanya BlueZero, buatan Volkswagen namanya E-Up! Dan buatan BMW bernama ActiveE sementara buatan Audi diberi nama e-tron. Kesamaannya adalah, mobil-mobil berpenggerak mesin listrik itu belum dipasarkan. Masalah terbesarnya saat ini masih menyangkut baterainya. Serta animo konsumen. Ketakutan paling besar adalah terbatasnya daya tempuh. Padahal hal itu tidak tepat. Sebab riset yang dilakukan konsultan McKinsey terutama digelar di kota-kota megapolitan dunia, yang ibaratnya bidan yang melahirkan mobil listrik. Di kota megapolitan, daya tempuh sekitar 50 km saja sudah mencukupi.

Christian Malorny, pakar otomotif McKinsey Jerman dalam konferensi pers lewat internet mengatakan : “Kita harus melepaskan pemikiran bahwa kita di masa depan tetap dapat dan juga hendak melakukan segala hal menggunakan mobil. Dan produsen otomotif harus lebih bergiat memulainya serta memikirkan bagaimana untuk pasar otomotif yang beragam, membuat mobil yang berbeda-beda pula. Peta pasar otomotif secara jelas akan semakin beragam. Sebuah motor bakar sebagai mesin penggerak sebuah mobil yang dapat menempuh jarak 500 hingga 1000 km, kemungkinan tidak diproduksi lagi.“

Mobil Hibrida

Untuk memudahkan penghentian produksi mobil jenis itu, para pakar memperkirakan adanya masa transisi. Yakni dengan memproduksi mobil hibrida, berupa pemasangan motor listrik sebagai pendukung untuk menambah daya tempuh motor bakar konvensional. Sekarang mobil-mobil hibrida sudah mulai dipasarkan dengan gencar. Di tahun 2015, kuota mobil listrik di kota-kota megapolitan diperkirakan sudah mencapai 16 persen. Pemerintah negara maupun pemerintah lokal di kota-kota besar kini mulai mendorong program mobilitas listrik tb.

Malorny mengatakan lebih lanjut : “Kita saat ini sedang mengikuti perlombaan negara-negara dalam tema mobilitas elektronik. Pemerintah mendukungnya secara besar-besaran, misalnya berupa dukungan bagi riset teknologi baterai atau teknologi motor listrik. Atau juga konsep dukungan bagi pemasarannya, untuk memotivasi konsumen, agar dapat memproduksi mobilnya dalam jumlah layak pasar.“

Namun dukungan lewat keringanan pajak atau rangsangan keuangan lainnya dinilai sebagai langkah yang salah. New York misalnya, mengizinkan penggunaan jalur bus untuk mobil-mobil listrik dan parkir gratis di sejumlah lokasi. Tapi di Shanghai, konsumen meminta subsidi keuangan secara nyata. Hal lain yang harus dipikirkan belakangan adalah pembangunan sarana infrastruktur yang relatif mahal. Tanpa infrastruktur yang mendukungnya, program mobil listrik yang ambisisius akan gagal. Pemerintah Jerman misalnya merencanakan hingga tahun 2020 sekitar satu juta mobil listrik sudah lalu lalang di jalanan.

Di tahun 2015 teladan dalam penggunaan mobil listrik, menurut perhitungan McKinsey adalah New York, dengan sekitar 70.000 unit, disusul Paris dengan 60.000 mobil listrik dan Shanghai dengan 25.000 mobil listrik. Pembeli mobil listrik, juga dengan bangga akan mengendarai mobil berteknologi “hijau“-nya yang kini menjadi trend dan lambang gengsi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar