Senin, 18 Januari 2010

Keunggulan Menjadi Bangsa Multilingual: Studi Kasus Belanda

Beberapa bangsa di Eropa, seperti Belanda, Denmark, dan Swedia, menerapkan pendidikan multi lingual semenjak sekolah menengah. Bahasa asing yang mereka pelajari, adalah Bahasa Inggris, yang merupakan bahasa internasional, dan Bahasa Jerman.

Indonesia sudah memulai pendidikan multi lingual, dengan membuka sekolah internasional, dimana bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Dalam beberapa kasus, selain bahasa Inggris, bahasa mandarin juga menjadi bahasa pengantar. Namun, apakah kemampuan berbahasa asing mampu meningkatkan daya saing kita? Apakah bangsa yang mampu menguasai berbagai macam bahasa asing memiliki keunggulan tertentu? Yang terpenting, apakah dengan menguasai berbagai bahasa asing, kemurnian bahasa ibu bisa tetap dijaga?

Kemurnian Bahasa

Mari kita mengambil contoh, pada mantan penjajah kita, yaitu negeri Belanda. Jika kita melihat peta eropa, Belanda tidak lebih hanya liliput ditengah dua negara besar, yaitu Perancis dan Jerman. Belanda memang tidak berbatasan langsung dengan Perancis, namun di Belgia, terdapat komunitas berbahasa Perancis, selain yang berbahasa Belanda. Secara ras dan kultural, posisi Belanda bagaikan kancil yang terjepit di tengah dua gajah raksasa.

Berbeda dengan Perancis dan Jerman, yang merupakan pusat prestise, aristokrasi dan kekuasaan Politik dan ekonomi Eropa dengan segala kemegahannya, Belanda hanya bisa bergantung pada satu hal untuk hidup, yaitu perdagangan. Keadaan dimana perdagangan menjadi salah satu pilihan strategis untuk bertahan, menjadikan para saudagar Belanda harus memutar otak dalam rangka beradaptasi ditengah ‘himpitan’ Perancis dan Jerman. Dalam kapasitas mereka sebagai pedagang, jika ingin melakukan perjalanan dinas ke Paris atau Berlin, maka menguasai bahasa Perancis atau Jerman menjadi suatu kewajiban. Sebagai bangsa yang besar, adalah tidak mungkin mengharapkan orang Perancis atau orang Jerman untuk berbahasa Belanda. Alhasil, para saudagar Belanda terpacu untuk mempelajari bahasa Jerman dan Perancis, selain bahasa Inggris, untuk melancarkan urusan bisnis mereka di Paris atau Berlin.

Seperti yang pernah dijelaskan M.Purna dalam artikel ‘Salah Kaprah dalam Pelafalan Bahasa Indonesia’, fenomena pencampuran bahasa menjadi salah satu masalah besar di Indonesia dewasa ini, terutama dengan bahasa Inggris. Hal ini terjadi, karena bahasa Indonesia masih mencari format dalam rangka menghadapi gempuran bahasa asing. Namun, fenomena demikian tidak terjadi pada Bahasa Belanda. Bagi yang menguasainya, akan sangat jelas sekali, bahwa Bahasa Belanda sangat mirip dengan Bahasa Jerman.

Berikut akan saya berikan tabel perbandingan antara Bahasa Belanda, Jerman, dan Indonesia:

Belanda Jerman Indonesia
wonen wohnen tinggal
wolk wolke awan
vrucht frucht buah
vriend freund teman
gezicht gesicht sejarah

Memang tabel diatas tidak mungkin mewakili keseluruhan kosa kata bahasa jerman dan Belanda, namun hanya berfungsi sebagai contoh saja. Namun, walaupun kedua bahasa tersebut memiliki persamaan kosa kata yang sangat mencolok, pelafalannya sangat berbeda.

Bahasa Jerman memiliki sistim pelafalan yang mirip bahasa Indonesia, dimana penulisan dan pelafalan sama, namun Bahasa Belanda lebih mirip bahasa Inggris, dimana penulisan dan pelafalan berbeda. Walaupun kedua bahasa itu sangat mirip, seperti bahasa Indonesia dan bahasa melayu malaysia, namun fenomena pencampuran bahasa tidak terjadi.

Secara kultural, seharusnya pencampuran itu mudah saja terjadi, mengingat Bahasa Jerman merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di Eropa, setelah bahasa Inggris, dan secara populasi bahkan penutur Bahasa Jerman sebagai bahasa ibu lebih banyak daripada penutur Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu di Eropa.

Belum lagi mengingat posisi Jerman sebagai ekonomi nomor 3 di dunia. Dengan keunggulan politis seperti ini, seharusnya ‘perembesan’ bahasa Jerman ke dalam bahasa Belanda bisa terjadi dengan mudah. Namun hal itu tidak terjadi. Belanda terkenal sebagai bangsa yang sangat melindungi kemurnian bahasanya.

Berhubung pelafalan bahasa Belanda dan Jerman yang sangat berbeda, maka fenomena pencampuran bahasa akan sangat mudah dikenali, dan bisa dihindari. Jika ada kata dalam bahasa Jerman yang diserap, maka itupun akan diucapkan dengan pelafalan bahasa Belanda. Di satu sisi, Belanda mewajibkan siswa sekolah untuk mempelajari bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman, namun di sisi lain, kemurnian bahasanya tetap dijaga dengan ketat.

Quo vadis Indonesia?
Bung Karno, dalam autobiografinya pernah mengungkapkan, agar Bangsa Indonesia menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Penulis pernah menerima keluhan, bahwa salah satu kesulitan utama penguasaan bahasa Inggris adalah karena bahasa ibu mayoritas orang Indonesia adalah bahasa daerah. Jadi bahasa Indonesia dianggap sebagai semacam ‘bahasa asing’ pertama, dan bahasa Inggris menjadi bahasa asing kedua.

Oleh sebab itu menguasai bahasa Inggris menjadi sangat sulit. Memang bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, namun secara psiko linguistik, bahasa kedua yang dipelajari setelah bahasa ibu jelas berposisi sebagai bahasa asing. Namun, apakah hal ini bisa menghalangi bangsa Indonesia untuk menguasai berbagai bahasa? Rasanya tidak. Kasus Belanda sudah menunjukkan, bahwa menguasai berbagai macam bahasa adalah mungkin. Dalam beberapa kasus, orang Belanda yang sangat terdidik bukan hanya menguasai bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman, namun juga bahasa Spanyol, Portugis, Italia, atau bahasa asing lainnya.

Hal ini juga menjadi kasus para bapak bangsa kita. Bung Karno dikenal sebagai seorang multi lingual. Beliau menguasai Bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, dan sedikit Italia. Demikian juga bapak bangsa kita yang lain seperti Bung Hatta dan Bung Syahrir, mereka juga adalah intelektual yang multi lingual.

Adapun selain Bahasa Inggris, peran Bahasa Mandarin dari hari ke hari semakin meningkat. Di Indonesia, semakin banyak siswa yang mempelajari Bahasa Mandarin. Posisi China sebagai salah satu lokomotif ekonomi dunia juga mempengaruhi popularitas bahasa Mandarin.

Dengan peran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, popularitas bahasa Mandarin yang semakin menanjak, dan kebutuhan kita menjaga kemurnian bahasa Indonesia yang ‘baik dan benar’, maka diperlukan suatu strategi berbahasa yang komprehensif bagi bangsa Indonesia. Bapak Bangsa kita sudah menunjukkan, bahwa menjadi intelektual yang multi lingual adalah mungkin.

Dapatkah kita kedepannya, mencetak intelektual paripurna, yang mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar, namun menguasai dua bahasa asing? Mari kita diskusikan bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar