Senin, 18 Januari 2010

Iptek Kita Masih Jadi Pelengkap Penderita

Masih seperti dulu saat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman tetap cepat dalam merespon email. Ayah tiga anak ini tengah menikmati masa leyeh-leyeh setelah sekian lama mengabdi pada negara sebegai menteri, rektor ITB, dan dosen. Bahkan sempat jua menjadi pebisnis, untuk kemudian kembali lagi ke kampus.

Begitu meletakkan jabatannya sebagai Menristek Kabinet Indonesia Bersatu 1, Pak KK, demikian ia akrab disapa, segera “balas dendam” melakukan wisata bersama keluarga tanpa protokoler negara. Berikut bincang-bincang Netsains.Com dengan lelaki berzodiak Taurus ini.

Nycko: Apa kesibukan bapak saat ini setelah tidak jadi Menteri?

Kusmayanto Kadiman (KK): Puji syukur, saya diberi-Nya kemudahan dalam memotivasi diri (self motivation) sehingga tak pernah punya kelebihan waktu untuk tidak berbuat apa-apa. Membaca, menulis, berolahraga, merajut silaturahmi dengan keluarga dan handai-taulan, dan beres-beres rumah adalah sederet kegiatan yang saya lakukan di Jakarta dan Bandung. Selain itu saya juga banyak jalan-jalan bersama istri dan anggota keluarga. Di bulan Nomber dan Desember, saya jalan-jalan ke Semarang, Menado, Ternate, Tidore, batamn, Penyengat, Bintan dan Bali. Kesempatan jalan-jalan ini sungguh saya nikmati tanpa terikat oleh jadwal dan protokoler yang ketat.

Nycko: Masih ingin mengajar lagi ngga pak?

KK: Saya tidak lagi punya semangat untuk mengajar secara formal. Saya telah mengajukan izin pensiun dini dari Pegawai Negeri Sipil dan ITB. Surat permintaan pensiun-dini saya kirim ke Rektor ITB dan Mendiknas pada tanggal 2 Maret 2009 saat ITB merayakan Ulang Tahun Emas (NB. ITB ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 Maret 1959).

Nycko: Bapak sudah mengalami menjadi pihak Akademisi, Businessman (zaman dulu sempat keluar dari ITB), dan Government (zaman jadi mentri). Nah, dari 3 bidang itu, mana yang paling bapak sukai?

KK:Rektor (dan akademisi) !

Nycko:Alasanya apa pak?

KK: Ketiganya (yaitu Rektor, Profesional dan Pembantu Presiden) adalah kegiatan yang terbaik pada masanya. Jika dipaksa untuk membuat urutan maka pilihan pertama saya adalah Rektor ITB. Pekerjaan yang membuat adrenalin memompa keras 7×24 jam. Dinamika kampus yang spektrumnya begitu luas: akademik, sosiopolitik sampai urusan korporasi menadjikan hidup saya begitu dinamis. Urutan kedua adalah saat menjadi profesional di dunia usaha. Di dunia usaha ini setiap prestasi mendapat penghargaan setimpal. Idem ditto dengan kesalahan yang dibuat. Stick & Carrot betul-betul diterapkan. Pembantu Presiden adalah tugas yang terberat sepanjang karir saya. Ketiganya saya syukuri sebagai pelangi dalam hidup saya.

Nycko: Jika bisa diwujudkan, bapak ingin kembali ke dunia yang mana, A, B, atau G?

KK: Ketiganya sudah menjadi masa lalu. Biarlah yang sudah berlalu menjadi kenangan indah dalam album.

Nycko: Bapak masih suka menulis?

KK: Membaca dan Menulis saya pandang sebagai berkah dan sekaligus amanah dari Sang Maha Pencipta. Untuk sementara tulisan-tulisan saya bersifat populer ada yang berupa artikel dan ada pula reportase. Semua tulisan untuk sementara ini saya simpan di http://www.kompasiana.com/kusmayantokadiman

Nycko: Sejak kapan bapak suka menulis, sejak mahasiswa atau sejak menjadi rektor, atau mentri?

KK: Sejak kecil saya suka menulis. Semasa jadi pengajar dan peneliti, tulisan fokus pada artikel ilmiah sesuai bidang yang ditekuni. Baru menulis artikel yang cakupannya lebih luas sejak menjabat Rektor ITB. Intensitas menulis bertambah saat jadi Pembantu Presiden dengan misi pembelajaran publik, sosialisasi program dan pertanggungjawaban pada publik.

Nycko: Selama menjadi Mentri, adakah pengalaman yg paling berkesan?

KK: Hal yang paling terkesan selama 5 tahun (Oktober 2004 – Oktober 2009) jadi Pembantu Presiden adalah — Gaji Tidak Pernah Berkurang atau Bertambah selama 5 tahun berturut-turut. Ini sangat terkesan karena jika menggunakan kaidah umum dalam Sistem Manajemen dan Organisasi maka gaji yang tidak pernah naik atau berkurang itu erat kaitannya dengan kinerja yang juga tak pernah naik atau turun. Bahkan dapat diartikan sebagai “hukuman”. Setahu saya semua anggota KIB 2004-2009 termasuk Presiden dan Wakil Presiden mengalami hal serupa. Ini sangat berkesan dan tak terlupakan. Selama jadi Pembantu Presiden hal ini saya suarakan namun bagaikan menggantang asap.

Nycko: Apa harapan bapak kini pada dunia iptek Indonesia?

KK: Tetap saya “bermimpi” iptek sebagai penghela dan pendorong pertumbuhuan sosioekonomi RI. Tak akan mungkin status tumbuh secara berkelanjutan jika RI hanya mengandalkan SDA sebagai sumber devisa dan sebagai konsumen iptek.

Nycko: Optimiskah bapak bahwa iptek kelak bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri? Kira-kira butuh berapa lama lagi?

KK: Selama RI masih dikuasai politikus maka rasa optimis itu bagaikan “Kerap tumbuh dibatu. Hidup segan, mati tak mau”. Dibutuhkan seorang Negarawan yang peduli akan nasib generasi penerus. Doa terus saya panjatkan.

Nycko: Apakah bapak merasa kini iptek dianaktirikan di Indonesia?

KK: Iptek masih menjadi pelengkap penderita, periferi dan sekedar memenuhi syarat perlu.

Nycko: Ada pesan khusus untuk generasi muda kita agar bisa terus semangat memperbaiki Indonesia dengan memanfaatkan Iptek?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar