Senin, 18 Januari 2010

Pelajar Mesti Melawan Globalisasi

Bupati Bantul Idham Samawi menyatakan pelajar mesti mempunyai sikap perlawanan terhadap globalisasi yang hanya menjadikan penduduk bangsa ini berperilaku konsumtif. Pelajar tak perlu terseret dalam bingkai kurang gaul atau kurang modern.

Hal itu disampaikan Idham, saat Sambung Rasa bersama para guru, pelajar, dan alumni SMAN 6 Yogyakarta, Sabtu (24/10). Sambung Rasa tersebut menjadi rangkaian acara Reuni Alumni SMAN 6 yang digagas Siswo Utomo, paguyuban alumni sekolah tersebut.

Lakukan perlawanan jika globalisasi itu hanya membuat kita menjadi konsumen yang digiring untuk terus berbelanja. Caranya sederhana, misalnya tak perlu fanatik datang ke mal dan menghabiskan uang di sana. Biar saya dicap ndeso karena tidak ke mal, ujarnya.

Idham yang juga alumnus SMAN 6 Yogyakarta angkatan 1969 ini lebih lanjut menuturkan bahwa Indonesia tak sadar sudah digiring sedemikian rupa oleh negara lain. Misalnya dalam industri ponsel, semua orang Indonesia nyaris mempunyai Nokia.

Bayangkan bahwa Finlandia, produsen merek itu hanya berpenduduk 10 juta jiwa, sedangkan Indonesia 240 juta lebih penduduk. Negara kecil itu menyetir Indonesia karena maju dalam teknologi. Artinya lagi, yang perlu dilakukan pelajar Indonesia sekarang adalah cara agar bisa cepat mengejar ketertinggalan teknologi, bukan cara agar tampil gaul dan makin konsumtif, papar Idham.

Darori, Ketua Umum Paguyuban Siswo Utomo yang juga Direktur jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, mengutarakan, banyak hal positif yang terancam hilang dari anak muda zaman sekarang, akibat terseret modernisasi.

Misalnya dari sisi olahraga dan berorganisasi yang agaknya sekarang tidak terlalu diminati. Padahal itu penting. Prestasi akademik memang penting, namun jangan terlampau mengejar sehingga aspek-aspek lain yang penting tak tergarap, papar Darori.

Soebekti Simaoen, alumnus angkatan tahun 1957 yang mantan pemimpin Bank Bapindo menuturkan, semangat belajar pelajar sekarang dilihatnya tak setinggi zamannya dulu. Entah karena apa, yang jelas banyak faktor. Dulu, kalau pamit belajar sama ortu, ya belajar. Tapi pelajar sekarang, pamit belajar, ternyata tidak selalu belajar, paparnya.

Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMAN 6 Yogyakarta Adhitya Danny Wahyudi menyatakan, pihaknya terus berupaya agar pelajar tertarik berorganisasi. Secara umum, minat pelajar berorganisasi masih bagus, tapi harus terus dipompa. Dengan beban di sisi akademis, mestinya aspek di luar belajar pelajaran bisa menjadi pilihan menarik untuk mengembangkan diri, ujar Danny.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar