Senin, 18 Januari 2010

Sains, Spirit Komunitas, dan Secangkir Kopi

Satu misteri “sains” yang belum terpecahkan hingga kini. Mengapa begitu sulitnya membuat orang awam menerima sains? Kata sains sendiri sudah menjadi momok mengerikan bagi mayoritas publik kita. Ada satu solusi yang bisa dicoba, membangun komunitas yang kompak untuk mempopulerkan sains. Bahkan bisa sambil meneguk secangkir kopi.

Semua berawal dari sebuah diskusi ringan di email. Seorang jurnalis, seorang mahasiswa pra-PhD di Skotlandia , dan seorang dosen bioinformatika Universitas Indonesia (UI) . Saat itu kami belum pernah bertatap muka, murni dipertemukan di dunia maya. Kami adalah kontributor dan penggagas sejumlah tulisan di web Netsains. Mulai dari obrolan santai tentang jajanan pinggir jalan sampai ke filsafat berat ala Dawkins, politik, dan lebih luas lagi. Karena sevisi, akhirnya kami berusaha bersama mewujudkan cita-cita kami itu. “Cita-cita yang besar tidak mungkin diwujudkan seorang diri, harus melibatkan banyak pihak yang sevisi,” lontar salah satu dari kami.

Komunitas

Maka Netsains.com yang semula “hanya” sebuah media online sains dan teknologi popular, coba dibumikan dengan menggulirkan gerakan lain. Networking of Indonesian Scientist, itu jika dicari-cari akronim dari Netsains. Gayung pun bersambut saat kami membuat milis Netsains, http://tech.groups.yahoo.com/group/netsains/. Bahkan tak lama kemudian kami langsung copy darat dan mengadakan jalan-jalan ke Boscha. Memang sampai saat ini kami masih mencari-cari bentuk komunitas macam apa yang paling pas buat kami yang begaian besar adalah kontributor situs sains dan popular Netsains ini.

Yang jelas Netsainers, begitu kami menyebut diri kami, sebagian besar adalah ilmuwan, jurnalis, pengajar, praktisi Teknologi Informasi. Kami tersebar di beberapa kota dan negara seperti Indonesia, Skotlandia, Jerman, Singapura, Jepang, Belanda dan banyak lagi. Mayoritas kami berusia relatif muda atau setidaknya berjiwa muda. “Muda tidaknya orang itu ditentukan dari semangatnya memperbaiki sekitar, bukan dari usia. Walau usianya masih muda kalau kerjanya hanya duduk-duduk santai saja tanpa melakukan apa-apa, maka dia tergolong tua,” ungkap Yockie Suryo Prayogo , mantan keyboardis God Bless yang suka ngeblog dan ikut mendukung Netsains.

Walau komunitas ini masih cair, setidaknya kami memiliki visi yang sama. Sebuah komunitas yang ingin membantu perbaikan kondisi sekitar ke arah yang lebih baik dengan sains dan teknologi. Terlalu mulukkah? Setidaknya dengan sharing pengalaman mengapa kami tertarik pada bidang ini ke teman-teman, kita bisa membukakan mata tentang pentingnya knowledge based society, masyarakat berbasis pengetahuan. Andai saja pola pikir masyarakat kita selalu berbasis pengetahuan, mengambil keputusan berdasar pengetahuan, bukan atas emosi, tidak mustahil kita bisa bersama memperbaiki diri.

Secangkir Kopi

Kafe sains yang diilhami dari Cafe Scientifique merupakan salah satu langkah konkret yang bisa diwujudkan saat ini. Konsep ini digagas oleh sejumlah ilmuwan Inggris yang melakukan serentetan diskusi sains keseharian di sejumlah kafe-kafe. Kita bisa melakukannya di kafe mana saja, kapan saja, bersama siapa saja. Diskusi bisa berkembang menjadi debat sains yang boleh jadi menghasilkan suatu solusi dari problem yang kita hadapi di keseharian.

Bahkan di negara asalnya, konsep ini juga berkembang melibatkan anak sekolah yang diberinama Kafe Junior. Ini adalah sebah even dimana diskusi santai berbasis sains bisa dilakukan di luar aula akademik kampus atau ballroom hotel bintang lima agar bisa lebih terjangkau oleh publik. Bincang-bincang ringan ikwal problem keseharian seperti, “Kenapa anak sekolah lebih suka bolos main game online di Warnet daripada belajar?” atau “Kenapa guru memberi PR terlalu banyak?” bisa jadi langkah positif. Awalnya bisa cukup melibatkan ibu-ibu rumah tangga, anak sekolah itu sendiri, dan sejumlah akademisi. Kelamaan bisa mengundang pakar di bidangnya. Bayangkan saja, sesungguhnya pencerahan sains bisa didapat hanya seharga secangkir kopi di kafe terdekat rumah anda.

Intinya adalah, kami ingin semua orang Indonesia tanpa terkecuali menjadi melek sains, mencari solusi segala permasalahan berbasis sains, rasio, pengetahuan, bukan emosi, prasangka tak berguna, dan sejenisnya. Kami ingin mempopularisasikan bahwa segala problem dalam hidup ini bisa dicari jalan keluarnya dengan sains. Dan untuk ke arah itu tidak membutuhkan biaya mahal seperti yang diduga orang selama ini. Sains sendiri berdasar dari bahasa Latin “scientia” yang artinya pengetahuan. Definisi sains berdasar kamus Webster adalah pengetahuan yang dicapai melalui studi atau latihan. Definisi lain dari Merriam Webster adalah “status dimana kita mengetahui sesuatu dengan metode tertentu”. Memasak sendiri sudah merupakan aktivitas yang melibatkan sains. Bagaimana kompor gas bisa menyala? Bagaimana mengupas bawang merah tanpa perih di mata? Mengapa nasi membuat kita cepat kenyang? Itu adalah pertanyaan simpel seputar sains.

Program lain? Maaf saja, kita punya segudang ide untuk mempopularkan sains yang bisa saja tak akan cukup dituangkan di satu tulisan. Bagaimanapun juga ini hanya sebuah langkah awal. Kami dengan senang hati mengajak siapa saja bergabung mewujudkan ide-ide yang bercokol di kepala kita bersama. Demi Indonesia yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar