Senin, 18 Januari 2010

Pembelajaran ICT di Tingkat SD Masih Rendah

Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi yang dikenal juga sebagai ICT di jenjang sekolah dasar masih rendah. Lambatnya perkembangan ini salah satunya karena kondisi infrastuktur yang belum mendukung.

Berdasarkan data Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekkom) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), jumlah sekolah dasar (SD) yang mempunyai laboratorium komputer baru mencapai 10 persen. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan keberadaan laboratorium komputer di jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) yang sudah mencapai 70 persen, jenjang sekolah menengah atas (SMA) yang mencapai 55 persen, dan jenjang sekolah menengah p ertama (SMP) yang mencapai 40 persen.

Kepala Pustekkom Lilik Gani mengatakan, lambatnya perkembangan ICT di jenjang SD ini karena masih banyak SD yang terletak di daerah terpencil yang belum mempunyai infrastruktur penunjang pengadaan laboratorium komputer, antara lain aliran listrik maupun jaringan telepon. Ini berbeda dengan jenjang SMP, SMA, maupun SMK yang sebagian besar sudah berada di daerah kecamatan dengan infrastruktur yang memadai, ujarnya di Yogyakarta, Jumat (4/8).

Menurut Lilik, Pustekkom hanya menyediakan bantuan bagi sekolah yang secara infrastruktur telah siap melaksanakan pendidikan ICT. Kebijakan ini diambil agar bantuan tidak sia-sia. Untuk mendukung pelaksanaan ICT di daerah terpencil, Pustekkom tengah mengembangkan mobile learning dan distance learning atau pembelajaran jarak jauh sehingga ICT bisa dilaksanakan kapan dan dimana saja.

Selanjutnya, Lilik mengatakan, Depdiknas mempunyai target pendidikan di Indonesia telah berbasis pembelajaran ICT pada tahun 2014. Dana yang tiap tahun digulirkan untuk terlaksananya target itu mencapai Rp 1 triliun setiap tahunnya. Dana tersebut dimanfaatkan untuk pembuatan jaringan, pelatihan, sarana, dan pengembangan buku sekolah elektronik, ujarnya.

Untuk mendukung pendidikan ICT di Indonesia, Pustekkom juga akan menyelenggarakan simposium internasional tentang pendidikan ICT yaitu International Symposium on Open, Distance, and E-Learning (ISODEL) 2009 pada Desember mendatang. Forum yang rencananya menghadirkan 400 kalangan pendidik Indonesia dan 100 peserta dari luar negeri itu dimaksudkan sebagai ajang berbagi ide mengenai pengembangan pendidikan ICT.

Sementara itu, Kepala bidang Bina Program Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DI Yogyakarta, Baskara Aji menyatakan, Provinsi DIY sudah melaksanakan sejumlah program untuk pengembangan ICT di tingkat sekolah. Salah satunya adalah pelatihan ICT kepada 1.000 guru setiap tahunnya. Fasilitas dan sarana ICT yang dibutuhkan juga sudah cukup banyak dimiliki. Hal ini bisa dilihat dari persentase pemanfaatan laboratorium komputer yang mencapai 67 persen dari jumlah masyarakat di DIY, katanya.

Selain itu, sejumlah sekolah unggulan di DIY juga akan dijadikan proyek percontohan untuk pendidikan berbasis ICT. Sekolah-sekolah itu antaralain SMP Negeri 5 Yogyakarta, SMA Negeri 8 Yogyakarta , SMA Negeri 1 Sewon Bantul, SMP Negeri 2 Sewon Bantul, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, dan SMK Pengasih Bantul.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar